Ahli Prabowo – Sandi: Ada Kesalahan Entry Data Pada Situng

0
79
Ahli Prabowo – Sandi: Analisis Forensik C1 Mengindikasikan Adanya Kesalahan Entry Data

HistoryIndonesia.id , Jakarta | Ahli Prabowo – Sandi ungkapkan bahwa hasil Analisis Forensik C1 tunjukkan adanya kesalahan entry data pada situng KPU. Angka yang seharusnya fluktuatif disesuaikan dengan data yang masuk justru menunjukkan angka yang sama dan tidak berubah. Demikian disampaikan Jaswar Koto selaku Ahli IT Bidang Analisis Forensik yang dihadirkan oleh Paslon 02 pada Kamis (20/6/2019) dinihari, seperti yang dikutip dari laman resmi Mahkamah Konstitusi.

Dalam keterangannya, ahli Prabowo-Sandi Jaswar menyampaikan telah melakukan analisis tanda tangan pada form C1 Pilpres dan form C1 DPD yang tersebar pada 21 provinsi di Indonesia. Analisisnya menemukan beberapa pola kesalahan pada Situng Pilpres 2019 dan identifikasi form C1. Pada keterangannya Jaswar menyampaikan telah melakukan analisis forensik terhadap form C1 dengan memulai analisis terhadap quick count, situng KPU, dan perhitungan manual berjenjang. Dalam temuannya, Jaswar menemukan keanehan.

Sebagai ilustrasi, Jaswar mencontohkan temuan yang terjadi di Jawa Tengah, di mana adaperbedaan perolehan suara antara pemilihan legislatif, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Pilpres. Dari pengamatannya, Jaswar mengidentifikasikan telah ada penyuntingan pada C1 dan entry data yang ada pada laman Situng KPU pada kasus tersebut. Data yang telah ada tersebut itu pula oleh Jaswar dihubungkan pada Situng KPU dan membentangkannya dengan daftar pemilih tetap (DPT).

“Maka kesalahan yang ada pada situng KPU terjadi akibat adanya kesalahan pada form C1 dan entry data pada laman situng,” jelasnya dalam sidang keempat perkara Nomor 01/PHPU-PRES/XVII/2019.

Lebih lanjut Jaswar menguraikan bahwa setelah melihat kesalahan tersebut, maka dirinya melakukan analisis forensik terhadap form C1 dengan menyebutkan bahwa apabila form C1 yang tidak ber-watermark atau berwarna putih, maka dapat diindikasikan form tersebut telah mengalami penyuntingan atau dapat juga telah terjadinya tumpang tindih pada form C1 tersebut.

“Maka setelah kami lakukan forensik dengan warna putih yang dapat diindikasikan C1 itu sudah diedit. Dari analisis itu kami menemukan pola-pola kesalahan pada situng terkait dengan entry data untuk menggembungkan suara 01 dan mengurangi 02; mengarah pada C1 dengan pola yang sama; dan untuk DPT fiktif ada dugaan pula bahwa DPT itu digunakan untuk bermain suara dengan menggunakan C1 tersebut,” nilai Jaswar.

Analisis Situng

Pemohon juga menghadirkan Ahli dari Universitas Airlangga, Soegianto Soelistiono yang menyampaikan bahwa jauh sebelum banyaknya sorot mata mengamati situng KPU di media, dia telah melakukan peninjauan dan eksplorasi halaman demi halaman pada situng dengan mengambil data tiap 2-3 kali sehari. Dengan menggunakan 16 server, ia pun rutin melihat tampilan situng KPU yang disimpannya dalam sebuah database.

Dalam pengamatan dan analisisnya, Soegianto menemukan persentase situng yang tidak berubah sampai dengan 20 Mei 2019 atau sebelum KPU menyampaikan pengumuman perolehan suara Pilpres 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here